PONTIANAK POST – Sedang ngopi dengan seorang teman di kawasan Pantai Bondi, Australia, saat dia mendengar rentetan tembakan. Pada Minggu (14/12) sore pukul 18.47 waktu setempat itu tengah ada perayaan malam pertama Hanukkah kaum Yahudi yang dihadiri sekitar 1.000 orang.
Saat melihat salah seorang penembak yang bersembunyi di balik pohon kehabisan peluru, Ahmed langsung menyergap dari belakang dan berhasil merebut senjatanya. “Di saat yang sama, penembak lainnya ada di jembatan… dia memegang senapan dan berusaha membunuh anak saya. Anak saya tertembak di pundak,” kata Mohamed Fateh Al Ahmed, ayah Ahmed, kepada ABC kemarin (15/12).
Menurut Mohamed, anaknya yang berusia 43 tahun itu tertembak empat–lima kali di pundak. Operasi pertamanya berlangsung sukses. Hozay Alkan, sepupu Ahmed, menyebut, kerabatnya itu masih harus menjalani dua–tiga kali operasi lagi.
Yang jelas, aksi heroik Ahmed telah menghindarkan jatuhnya lebih banyak nyawa. Korban meninggal sebanyak 15 orang, tertua seorang pria berusia 87 tahun dan termuda seorang gadis 10 tahun.
Ada 42 orang lainnya yang harus dilarikan ke rumah sakit, dengan lima di antaranya dalam kondisi kritis. Dari Jakarta, Kementerian Luar Negeri memastikan, tak ada warga Indonesia yang menjadi korban.
Kepolisian setempat mengidentifikasi terduga pelaku sebagai ayah dan anak, Sajid Akram, 50, dan Naveed Akram, 24. Sajid tewas ditembak polisi di lokasi kejadian, sementara Naveed mengalami luka kritis dan dirawat di rumah sakit dengan pengawalan ketat. Polisi memastikan, tidak ada pelaku ketiga yang terlibat.
Mengenai motif, mengutip The Guardian, kepolisian memastikannya sebagai sentimen antisemitisme. ABC juga menyebut, ada dugaan kedua pelaku terkait dengan ISIS.
Komisaris Polisi New South Wales (NSW) Mal Lanyon mengatakan, Sajid merupakan pemegang izin senjata api resmi kategori AB dan memiliki enam senjata api yang terdaftar atas namanya.
Seluruh senjata tersebut telah diamankan, baik dari lokasi kejadian maupun dari hasil penggeledahan di rumah pelaku di Campsie dan Bonnyrigg, wilayah barat Sydney. Polisi juga menemukan dua alat peledak rakitan sederhana di dalam mobil yang terkait dengan kedua penembak.
“Pria berusia 50 tahun itu telah memegang izin senjata api selama sekitar 10 tahun,” ujar Lanyon.
Nodai Simbol Kegembiraan
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut, serangan tersebut sebagai “tindakan kejahatan, tindakan antisemitisme, dan terorisme di tanah Australia.” Dia menegaskan, kalau seluruh sumber daya negara akan dikerahkan untuk merespons serangan tersebut dan memberantas antisemitisme.
“Pantai Bondi adalah simbol kegembiraan dan perayaan. Namun, tempat ini kini selamanya ternoda oleh apa yang terjadi,” kata Albanese, seperti dikutip dari The Guardian.
Bondi adalah salah satu destinasi wisata andalan Negeri Kanguru. Perdana Menteri NSW—negara bagian di mana Sydney adalah ibu kotanya—Chris Minns menegaskan, tidak ada toleransi terhadap rasisme dan kebencian terhadap Yahudi. Dia membuka kemungkinan perubahan undang-undang kepemilikan senjata api pascaserangan ini.
“Kami harus memastikan, kejadian seperti ini tidak terulang,” ujarnya.
Ayah Dua Putri
Adapun Ahmed berasal dari Syria. Ayah dua putri berusia enam dan tiga tahun itu sudah merantau ke Australia sejak 2006 dan kini menjalankan bisnis toko buah.
Kedua orang tuanya, Mohamed Fateh Al Ahmed dan Malakeh Hasan Al Ahmed, baru dua bulan lalu mendarat di Sydney. Yang mereka khawatirkan kini, karena usia yang sudah sepuh, mereka tak akan bisa banyak membantu proses pemulihan sang anak.
Karena itu, mereka berharap pemerintahan PM Albanese bisa membantu mendatangkan dua anak mereka yang lain yang berada di Jerman dan Rusia. “Dia (Ahmed) butuh bantuan sekarang karena dia difabel. Kami butuh anak-anak kami yang lain untuk membantu,” kata Mohamed. (lyn/mia/ttg)cuan128
8xbet