Jakarta – Seorang pengembang awal franchise Call of Duty mengungkap bahwa publisher Activision pernah memaksa tim developer membuat game dengan skenario konflik Iran menyerang Israel.
Hal itu disampaikan oleh Chance Glasco, salah satu pendiri studio Infinity Ward sekaligus co-creator seri Call of Duty. Menurutnya, ide tersebut muncul setelah para pendiri Infinity Ward keluar dari studio dan membentuk Respawn Entertainment.
Activision menurutnya memberikan tekanan yang mengganggu tim pengembang untuk mengembangkan konsep tersebut. Ia menyebut banyak anggota tim merasa tidak nyaman karena permintaan tersebut terlihat lebih seperti propaganda politik dibanding arahan kreatif dalam pengembangan game.
Pada akhirnya proyek dengan skenario konflik Iran-Israel itu tidak pernah dibuat, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (8/3/2026).
Trump White House Uses Call Of Duty: Modern Warfare Kill Streak To Celebrate Killing People In Iran https://t.co/FmeMpqh4o9
β Kotaku (@Kotaku) March 4, 2026
Pernyataan Glasco muncul di tengah diskusi mengenai bagaimana pemerintahan Donald Trump menggunakan cuplikan video game dalam konten komunikasi politik. Baru-baru ini, Gedung Putih sempat menggunakan footage dari game Call of Duty dalam materi video yang mempromosikan narasi kemenangan militer.
This doesn’t surprise me. I remember after Activision took over post-Respawn formation there was a very awkward pressure from Activision for us to make the next CoD about Iran attacking Israel. Luckily the vast majority of our devs were disgusted by the idea and it got shot down. https://t.co/taTIsQUklI
β Chance Glasco π Gamescom Latam (@ChanceGlasco) March 4, 2026
Menurut Glasco, penggunaan media hiburan seperti video game untuk memengaruhi opini publik bukanlah hal baru. Ia menilai pemerintah di berbagai negara semakin sering memanfaatkan budaya populer untuk menyampaikan pesan terkait isu geopolitik, termasuk perang.
Ia juga menyinggung kontroversi misi “No Russian” dalam Call of Duty: Modern Warfare 2. Misi tersebut sempat menuai kritik karena menggambarkan aksi kekerasan terhadap warga sipil di sebuah bandara.
Glasco mengatakan bahwa sejak awal seri Call of Duty sebenarnya dibuat untuk menggambarkan perang sebagai sesuatu yang brutal dan tragis, bukan sekadar hiburan. Dalam misi “No Russian”, misalnya, pemain diberi opsi untuk melewati level tersebut atau tidak ikut menembaki warga sipil.
Ia juga mengaku sempat menghadapi konsekuensi pribadi setelah skenario tersebut bocor ke publik. Glasco menyebut dirinya kehilangan paspor Rusia dan tidak yakin apakah hingga kini masih dilarang memasuki negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan Trump juga diketahui menggunakan referensi budaya pop lain untuk kampanye komunikasi, termasuk karakter Master Chief dari seri Halo hingga referensi franchise PokΓ©mon dalam pesan terkait kebijakan pemerintah.
