
Jakarta – Dzikir dan doa setelah berbuka puasa merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Waktu berbuka termasuk momen yang penuh keutamaan dan disebut dalam sejumlah riwayat sebagai waktu mustajabnya doa.
Selain membaca doa sebelum berbuka, umat Islam juga dianjurkan untuk berdzikir dan memanjatkan doa setelah membatalkan puasa. Berikut bacaan dzikir dan doa setelah berbuka puasa yang disunnahkan beserta tulisan Arab, latin, dan artinya.
Dzikir Setelah Buka Puasa
Dzikir setelah buka puasa dapat dilakukan dengan dzikir petang. Dikutip dari buku Koleksi Lengkap Dzikir Pagi Petang dari Ustaz Abdul Wahhab, berikut bacaan dzikir petang yang bisa diamalkan.
1. Membaca Ayat Kursi
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةً وَلَا نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَوتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Arab-latin: Allāhu lā ilāha illā huw, al-hayyul-qayyum, là ta khużuhu sinatuw wa lā na`um, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-ard, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa ma khalfahum, wa lā yuhītuna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-ard, wa lā ya`uduhụ hifzuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘azīm
Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Al Baqarah: 255)
2. Membaca Surah al-Ikhlas, Surah al-Falaq, dan Surah an-Nass 3 Kali
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ
Arab latin: Qul huwallāhu ahad. allāhuş-şamad. lam yalid wa lam yulad. wa lam yakul lahu kufuwan ahad
Artinya:”Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS al-Ikhlas:1-4)
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ
Arab-latin: Qul a’użu birabbil-falaq min syarri mā khalaq wa min syarri gāsiqin iżā waqab wa min syarrin-naffāśāti fil-‘uqad wa min syarri ḥāsidin iżā hasad
Artinya:” Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS al-Falaq:1-5)
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ
Arab-latin: Qul a’użu birabbin-nās. malikin-nās. ilāhin-nās. min syarril-waswāsil-khannās. allażī yuwaswisu fi şudurin-nās. minal-jinnati wan-nās
Artinya:”Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS an-Naas: 1-6)
3. Membaca Dzikir Petang
أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Arab latin: Amsainaa wa amsal muluk lillaaahi walhamdulillaahi laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah. Lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kuli syai-in qadiir. Rabbi as-aluka khaira maa fii hadzihil lailah wa khaira maa ba’dahaa, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzihil lailah wa syarri maa ba’dahaa. Rabbi a’udzu bika minal kasali wa suu-il kibar. Rabbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qabri.
Artinya: “Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha sa, tidak sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan setelahnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan pada hari tua. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan kubur.”
4. Membaca Kalimat Pujian kepada Allah SWT
سُبحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Arab latin: Subhaanallaahi wa bihamdih
Artinya: “Maha Suci Allah, aku memuji-Nya.”
أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullah wa atuubu ilaih
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
Doa Berbuka Puasa
Diriwayatkan dalam Kitab Sunan Abu Dawud dan An-Nasa’i, dari Ibnu Umar RA, ia menuturkan bahwa ketika Rasulullah SAW berbuka puasa, beliau membaca doa berikut:
ذَهَبَ الظُّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
Arab latin: Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru in syaa al-laahu ta’aalaa
Artinya: “Telah hilang rasa haus, telah basah urat nadi, dan telah tetap pahala jika Allah menghendaki.”
Selain itu, dalam riwayat Sunan Abu Dawud dari Muadz bin Zuhrah disebutkan bahwa saat berbuka puasa, Rasulullah SAW melafalkan doa berikut.
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Arab latin: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rezekika afthartu
Artinya: “Ya Allah, untukmu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka.”
Muadz bin Zuhrah turut meriwayatkan doa berbuka puasa sebagaimana tercantum dalam Kitab Ibnu Sunni. Berikut ini adalah bacaan doanya.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصَمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ
Arab latin: Alhamdulillaahil ladzii a’aani fashamtu wa razaqanii faafthartu
Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa dan telah memberikan rezeki kepadaku sehingga aku dapat berbuka.”
Dalam kitab tersebut juga terdapat riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas RA. Ia mengatakan, “Jika Rasulullah SAW berbuka puasa beliau membaca,
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا ، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العليم
Arab latin: Allaahumma laka shumnaa wa’ala rezekika aftharnaa fataqabbal minnaa innak antas samii’ul ‘aliim
Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kami berpuasa dan atas rezeki-Mu kami telah berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Doa Orang Buka Puasa Mustajab
Menurut sebuah riwayat, doa orang yang berpuasa termasuk doa yang mustajab. Hal tersebut diriwayatkan dalam Kitab at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
“Tiga orang yang doa mereka tidak tertolak, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang teraniaya.” Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan.
Kemudian, dalam Kitab Ibnu Majah dan Ibnu Sunni, terdapat riwayat dari Abdullah bin Abi Malikah, dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, dia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, ketika dia berbuka terdapat doa yang tidak tertolak.”
Ibnu Malikah mengatakan, “Aku mendengar Abdullah bin Amr ketika berbuka puasa mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَرَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي
Arab latin: Allaahumma innii as-aluka bi rahmatikan latii wasi’at kulla syain an taghfira lii
Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu menjadikan luasnya pengampunan-Mu kepadaku.”
Wallahu a’lam.